PERBEDAAN TINGKATAN MANUSIA DALAM MENERIMA NASIHAT
- Posted by
- kelapangan hati, menebar kebaikan, mengajak pada kebaikan, menuntut ilmu

Tatkala nasehat-nasehat diperdengarkan kepada seseorang, seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan, Umumnya manusia tidak berada dalam kondisi yang sama, di saat mendengarkan wejangan dan nasehat-nasehat maupun setelah mendengarkannya.
Pertama, nasehat-nasehat itu ternyata laksana cemeti; ketika seseorang habis dipukuli dengan cemeti itu, ia seringkali tak merasa sakit.
Kedua, tatkala mendengar nasehat, ia sedang berada dalam kondisi jiwa dan pikiran yang prima. Dia telepas dari segala ikatan duniawi. Ia diam dan menghadirkan hatinya.
Akan tetapi, tatkala kembali disibukkan dengan urusan dunia, penyakit lamanya kambuh kembali. Bagaimana mungkin ia bisa kembali seperti saat mendengarkan nasehat-nasehat itu?
Kondisi demikian dapat menimpa setiap orang. Hanya mereka yang memiliki kesadaran tinggilah yang bisa mengatasi pengaruh-pengaruh duniawi tersebut. Ada yang bertekad kuat untuk kokoh berpegang pada prinsip yang sudah diyakininya, lalu ia berjalan tanpa menoleh-noleh lagi.
la akan memberontak jika perlakunya tidak lagi sesuai dengan tabiat dirinya, seperti Hanzhalah yang pernah mengecam dirinya sendiri, “Hanzhalah telah munafik!”
Ada pula yang terkadang masih terseret-seret oleh kelalaian akibat pengaruh tabiat dirinya, namun pada saat yang sama nasehat itu masih mempengaruhi dirinya untuk beramal. Mereka laksana cabang-cabang pohon yang goyah diterpa hembusan angin. Ada pula golongan manusia yang tak terpengaruh apa-apa, hanya sekadar mendengar, mereka laksana batu-batu yang diam.

0 Comments