Apa Itu Iman?
- Posted by
- ilmu, iman, kelapangan hati, menebar kebaikan, menuntut ilmu

Iman, jika ditinjau dari segi bahasa menurut banyak kalangan, artinya adalah “membenarkan”. Sebagai contoh dalam kalimat “Aku membenarkan” dan “Aku beriman” merupakan dua kalimat dengan makna yang sama.
Akan tetapi menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitabnya Syarah al-Aqidah al-Wasithiyyah disebutkan bahwa arti iman dari segi bahasa seperti tersebut di atas tidaklah shahih, akan tetapi arti iman yang shahih (jika ditinjau dari segi bahasa) adalah menetapkan sesuatu karena membenarkannya.
Sebagai contoh, jika kita berkata, “Kami membenarkan fulan”, berarti kita membenarkan fulan karena suatu ketetapan yang kita ketahui (bahwa fulan telah melakukan atau berada dalam kebenaran), dan kita tidak berkata “kami beriman kepada fulan”. Jadi kedua arti antara membenarkan dengan mengimani tersebut tidaklah sama. Keduanya memilki kandungan makna yang berbeda.
Sementara iman itu sendiri memiliki arti yang lebih dari sekedar membenarkan. Iman itu berisi pengakuan yang berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum. Inilah artian iman yang lebih tepat.
Sebagai contoh, jika kita beriman bahwa Allah itu ada, maka ini bukanlah iman, sampai keimanan tersebut berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum, jika tidak maka ia bukan iman.
Adapun pengertian iman dalam pandangan syari’ah adalah keyakinan (pembenaran) oleh hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan oleh anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan (al-Iman, Hakikatnya, Pengurangnya, Pembatalnya menurut Ahlussunnah – Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsary: Hal. 13).
Seseorang dikatakan beriman jika telah terpenuhi ketiga hal tersebut, yaitu dibenarkan dengan hatinya, diucapkan oleh lisannya dan diamalkan oleh anggota badannya.
Contoh adalah ketika seseorang baru masuk islam dengan bersyahadat, bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maka orang tersebut harus melafazhkan dengan lisannya bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, disertai dengan keyakinan dalam hati bahwa benar-benar sungguh tidak ada tuhan selain Allah yang pantas disembah dan diibadahi selain hanya Dia semata dan sungguh benar-benar bahwa Muhammad adalah nabi-Nya, utusan-Nya, Rasul-nya pembawa risalah Islam dan juga sekaligus sebagai nabi akhir zaman yang tidak ada nabi setelahnya. Kemudian orang tersebut harus mengetahui konsekuensi dari keimanan tersebut dengan kewajiban untuk beribadah sesuai dengan tuntunan syari’ah, melaksanakan kewajiban sebagai Muslim dengan keikhlasan dan ittiba’ ar-Rasul, mempelajari keilmuan terkait dengan pokok-pokok kewajiban tersebut, mengamalkannya dalam kehidupan sesuai dengan beban syariah yang telah dipikulkan kepadanya.
Itulah Iman, yang dengannya lahirlah konsekuensi amal sebagai sebuah kesatuan dengan keyakinan hati dan ucapan lisan.
Dan hendaklah diketahui pula segala hal yang dapat meningkatkan keimanan, yaitu dengan ketaatan kepada Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan juga mengetahui pula bahwa iman seseorang juga dapat turun seiring dengan kemaksiatan yang dilakukan.
Menjadi suatu keharusan yang mendasar bagi setiap Muslim untuk mengetahui perkara-perkara yang dapat membatalkan keimanan, yang dengan pengetahuan terhadap hal tersebut dapat menjaga diri dari kebodohan akan hal-hal yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, menjaganya dari ketergelinciran pemahaman, menetapkan hati dan pikiran agar tetap berada di jalan kebenaran, menjauhkan diri dari syubhat aqidah dsb.

0 Comments