Menuntut Ilmu Sedari Dini
- Posted by akhyar
- agen perbaikan, belajar sedari dini, menebar kebaikan, menuntut ilmu

Peran ulama dalam pendidikan umat dan pembentukan karakter masyarakat sangatlah penting dan tak bisa dipisahkan. Merekalah barometer keberhasilan pendidikan dikarenakan para ulama lah yang menjadi sentral rujukan masyarakat, pusat pendidikan dan ilmu, serta pengayom dalam kehidupan berbangsa. Jika baik kualitas ulama maka insya Allah masyarakat pun akan menjadi baik adanya, akan tetapi jika para ulama sudah melenceng dari tujuan hadirnya mereka di dunia, maka besar kemungkinan masyarakat pun akan lebih tergelincir lagi dalam menjalani kehidupan.
Menuntut ilmu untuk menjadi seorang ulama, baik ulama yang ahli di sejumlah keilmuan Islam maupun ulama yang memiliki keahlian di keilmuan kedunia-an dan modern (teknik, ekonomi, keuangan, kedokteran, dsb.), dimulai dari awal kehidupan manusia itu sendiri. Berawal dari keluarga, peran orangtua yang sangat besar dalam mendorong semangat belajar anak-anaknya sedari dini, mengenalkan ilmu-ilmu yang bermanfaat di fase-fase awal kehidupan seorang anak, menjadi teladan dalam keseharian, mengantarkan mereka untuk terus menyelami khazanah keilmuan yang luas dan beraneka ragam.
Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin agar setiap anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang ideal dilihat dari sudut pandang Islam itu sendiri. Pribadi yang memiliki iman yang teguh, pemahaman terhadap aqidah yang mantap, penguasaan terhadap hal-hal yang wajib diketahui oleh seorang muslim seperti perihal thaharah, shalat, zakat, puasa, dan haji, serta terkait dengan hal-hal yang haram dan tidak boleh dilakukan (misal: riba, zina, perilaku dan akhlak buruk lainnya). Kesemua itu idealnya sudah mulai dikenalkan sedari dini kepada anak-anak, terutama pengenalan adab-adab dalam kehidupan itu sendiri, sesuai syariah Islam, seperti contoh adab dalam menuntut ilmu, adab dalam berinteraksi dengan yang lain, dan yang terpenting adalah mengenalkan adab terhadap Allah ‘Azza wa Jalla sebagai al-Khaliq.
Kita berharap kelak kita akan berhasil mendidik anak-anak yang akan menjadi penerus dakwah di negeri ini, menjadi ulama yang ilmunya bermanfaat untuk dirinya dan yang lain (umat), menjadi pribadi yang akan selalu menebar kebaikan dimanapun berada, dan menjadi katalisator perbaikan kapan dan dimanapun. Dengan begitu hadirnya ilmu tersebut akan bernilai keberkahan yang luar biasa, yang akan membawa manfaat luas ke masyarakat.
Abu Muslim al-Khaulani seorang tabi’in senior, yang bernama asli Abdullah bin Tsaub pernah berkata:
“Ulama itu ada tiga:
Pertama, Ulama yang hidup dengan ilmunya dan manusia lain hidup dengan ilmunya,
Kedua, Ulama yang hidup dengan ilmunya dan tidak seorang pun mendapatkan manfaat ilmu tersebut, dan
Ketiga, Ulama yang masyarakat hidup dengan ilmunya, namun ilmu tersebut justru mencelakaan dirinya sendiri”.
Dan pada zaman kita hidup sekarang telah kita saksikan dan rasakan langsung ketiga jenis Ulama tersebut.
Sejatinya ilmu agama seharusnya akan menjaga seseorang dari kehancuran, ketersesatan, dan kerusakan dunianya dan akhiratnya bagi sesiapa yang berniat ikhlash menuntut ilmu dan menyebarkannya karena Allah. Akan tetapi jika orientasi duniawi dijadikan tujuan dalam menuntut ilmu dan penyebarannya maka sungguh ilmu tersebut tidak akan membawa manfaat dan keberkahan bagi pemiliknya dan mungkin tidak juga bermanfaat bagi yang lain.
Semoga Allah memberikan kita pemahaman ilmu agama yang dapat menjaga dunia akhirat kita dan juga dapat memberikan manfaat bagi yang lainnya.
Perkataan di atas terdapat dalam Sunan ad-Darimi no. 364 (dengan isnad shahih menurut Husain Salim Asad ad-Darani) dengan teks lengkapnya seperti berikut di bawah ini:
Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah ia berkata, ” Abu Muslim Al Khaulani pernah berkata, ‘Ulama’ itu ada tiga: Pertama Ulama’ yang hidup dengan ilmunya dan manusia lain hidup dengan ilmunya, Kedua ulama’ yang hidup dengan ilmunya dan tidak seorang pun mendapatkan manfaat ilmu tersebut, dan ketiga ulama yang masyarakat hidup dengan ilmunya, namun ilmu tersebut justru mencelakaan dirinya sendiri”.
